Jumat, 11 April 2014

Kayu Galam

Kayu Galam berasal dari pohon galam ( Melaleuca cajuputi ) yang tumbuh secara alami di hutan rawa hingga mencapai tinggi 40 m dan diameter sekitar 35 cm. Penyebarannya ada di Myanmar, Thailand, Malaysia, Indonesia, Papua New Guini dan Australia. Kayu galam sangat tahan terhadap tanah asam yang ada pada rawa.

Meski berdiameter kecil namun kayu galam sangat kuat, biasa dipergunakan orang sebagai cerucuk kacapuri, sebagai penyangga cetakan / mal pada pengecoran beton). Bisa juga sebagai bagian sementara pembuatan jembatan kecil, siring jalan, kayu bakar, tiang pancang kecil, tiang bangunan.

Kulit kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengisap nanah pada luka atau dibuat ekstrak untuk mengobati rasa lesu dan susah tidur. Apabila ditambah damar, kulit kayu dapat dimanfaatkan sebagai bahan penambal perahu. Daunnya dapat menghasilkan minyak kayu putih yang dapat digunakan sebagai obat gosok untuk mengobati rematik dan nyeri pada tulang. Buah dan bijinya dikenal sebagai merica bolong dipergunakan orang Jawa dan Bali sebagai bahan jamu untuk mengobati penyakit lambung.

Ada dua jenis galam yang dikenal oleh masyarakat, yaitu galam tembaga dan galam putih. Galam tembaga memiliki kulit kayu yang relatif tipis dengan warna kemerahan (seperti tembaga) sedangkan galam putih memiliki kulit kayu yang relatif tebal dengan warna keputihan. Galam tembaga biasanya tumbuh dilahan tepi sungai, sedangkan galam putih dilahan hutan bagian dalam jauh dari tepi sungai. Bila dimasukkan ke dalam air, kayu galam tembaga cenderung tenggelam, sedangkan kayu galam putih akan terapung.

Kayu galam biasanya diambil dari dalam hutan galam dengan cara menebangnya dengan kapak kemudian dipanggul ke tempat penumpukan. Selanjutnya diangkut dengan perahu jukung ke tempat pengumpulan yang terletak di tepi sungai. Kemudian dibawa lagi ke pangkalan kayu galam atau langsung dijual kepada para pembeli.

Dari segi kelestarian hutan galam, masyarakat khususnya penebang galam tidak khawatir akan kelanjutan hutan galam. Istemewanya kayu galam dapat tumbuh dengan sendirinya di hutan rawa. Dan, ditambah galam selama pertumbuhan tidak memerlukan pemeliharaan intensif. Perilaku para penabang galam juga mendukung kelestarian pohon galam antara lain. Mereka menebang galam sesuai kebutuhan dan tidak menebang galam setiap hari. Mereka meninggalkan anakan dalam setiap penebangan. Pohon galam yang ujungnya berdiameter lebih kecil dari 4 cm tidak boleh ditebang. Pohon yang berdiameter 30 cm ke atas tidak ditebang karena berat memanggulnya sehingga dijadikan sebagai pohon benih. Selain itu pohon galam yang masih berupa anakan dapat dipanen 3-5 tahun kemudian, sehingga kayu galam tidak perlu lama untuk rotasi pertumbuhannya.

Meski kelestarian hutan galam dari segi perilaku penebang dan rotasi tumbuh yang cepat tak perlu dikhawatirkan. Namun jika hutan galam, kelestariannya tidak diperhatikan dalam pengambilan keputusan atau kebijakan pemerintah, yang dapat mengkonversi hutan galam menjadi kawasan perkebunan tertentu maka lama kelamaan galam akan habis. Sehingga hal ini harus tetap menjadi perhatian kita semua, khususnya pengakuan keberadaan hutan galam. 

sumber http://www.pertani-kalimantan.com/artikel/flora-kayu-galam.html 

Kayu Galam

Kayu Galam berasal dari pohon galam ( Melaleuca cajuputi ) yang tumbuh secara alami di hutan rawa hingga mencapai tinggi 40 m dan diameter sekitar 35 cm. Penyebarannya ada di Myanmar, Thailand, Malaysia, Indonesia, Papua New Guini dan Australia. Kayu galam sangat tahan terhadap tanah asam yang ada pada rawa.

Meski berdiameter kecil namun kayu galam sangat kuat, biasa dipergunakan orang sebagai cerucuk kacapuri, sebagai penyangga cetakan / mal pada pengecoran beton). Bisa juga sebagai bagian sementara pembuatan jembatan kecil, siring jalan, kayu bakar, tiang pancang kecil, tiang bangunan.

Kulit kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengisap nanah pada luka atau dibuat ekstrak untuk mengobati rasa lesu dan susah tidur. Apabila ditambah damar, kulit kayu dapat dimanfaatkan sebagai bahan penambal perahu. Daunnya dapat menghasilkan minyak kayu putih yang dapat digunakan sebagai obat gosok untuk mengobati rematik dan nyeri pada tulang. Buah dan bijinya dikenal sebagai merica bolong dipergunakan orang Jawa dan Bali sebagai bahan jamu untuk mengobati penyakit lambung.

Ada dua jenis galam yang dikenal oleh masyarakat, yaitu galam tembaga dan galam putih. Galam tembaga memiliki kulit kayu yang relatif tipis dengan warna kemerahan (seperti tembaga) sedangkan galam putih memiliki kulit kayu yang relatif tebal dengan warna keputihan. Galam tembaga biasanya tumbuh dilahan tepi sungai, sedangkan galam putih dilahan hutan bagian dalam jauh dari tepi sungai. Bila dimasukkan ke dalam air, kayu galam tembaga cenderung tenggelam, sedangkan kayu galam putih akan terapung.

Kayu galam biasanya diambil dari dalam hutan galam dengan cara menebangnya dengan kapak kemudian dipanggul ke tempat penumpukan. Selanjutnya diangkut dengan perahu jukung ke tempat pengumpulan yang terletak di tepi sungai. Kemudian dibawa lagi ke pangkalan kayu galam atau langsung dijual kepada para pembeli.

Dari segi kelestarian hutan galam, masyarakat khususnya penebang galam tidak khawatir akan kelanjutan hutan galam. Istemewanya kayu galam dapat tumbuh dengan sendirinya di hutan rawa. Dan, ditambah galam selama pertumbuhan tidak memerlukan pemeliharaan intensif. Perilaku para penabang galam juga mendukung kelestarian pohon galam antara lain. Mereka menebang galam sesuai kebutuhan dan tidak menebang galam setiap hari. Mereka meninggalkan anakan dalam setiap penebangan. Pohon galam yang ujungnya berdiameter lebih kecil dari 4 cm tidak boleh ditebang. Pohon yang berdiameter 30 cm ke atas tidak ditebang karena berat memanggulnya sehingga dijadikan sebagai pohon benih. Selain itu pohon galam yang masih berupa anakan dapat dipanen 3-5 tahun kemudian, sehingga kayu galam tidak perlu lama untuk rotasi pertumbuhannya.

Meski kelestarian hutan galam dari segi perilaku penebang dan rotasi tumbuh yang cepat tak perlu dikhawatirkan. Namun jika hutan galam, kelestariannya tidak diperhatikan dalam pengambilan keputusan atau kebijakan pemerintah, yang dapat mengkonversi hutan galam menjadi kawasan perkebunan tertentu maka lama kelamaan galam akan habis. Sehingga hal ini harus tetap menjadi perhatian kita semua, khususnya pengakuan keberadaan hutan galam. 

sumber http://www.pertani-kalimantan.com/artikel/flora-kayu-galam.html 

Minggu, 30 Maret 2014

Cara Menghitung Volume Kayu

Cara Menghitung Volume Kayu. Untuk menghitung / mengetahui jumlah kayu dalam setiap kubiknya dengan cara 10.000 : Tinggi ...cm : Lebar .... cm : Panjang Kayu =.... M 

Hasil contoh  

10.000 : 2 : 20 : 4 = 62 batang

VOLUME KAYU
No Ukuran Volume/m3
1 2 x 3 x 4 m3 416 btg
2 3 x 4 x4 m3 208 btg
3 4 x 6 x 4 m3 104 btg
4 5 x 7 x 4 m3 72 btg
5 5 x 10 x 4 m3 50 btg
6 6 x 12 x 4 m3 35 btg
7 6 x 15 x 4 m3 28 btg
8 8 x 12 x 4 m3 26 btg
9 8 x 15 x 4 m3 21 btg
10 2 x 20 x 4 m3 62 btg
11 3 x 20 x 4 m3 42 btg
12 3 x 30 x 4 m3 28 btg


Untuk menghitung/mengetahui harga per batang dengan cara harga per meter kubik di bagi jumlah volume kayu per kubiknya, contoh  kayu meranti ukuran 5x10x4 harga per kubik Rp. 2.700.000 : 50 batang = Rp. 54.000

Harga Jual Kayu di Samarinda

Harga Jual Kayu disamarinda
Harga kayu Meranti Merah di Samarinda asal  Muara Wahau
Kaso   5/7x4    Rp. 55000/batang ukuran sesungguhnya 4/6x4
Galar   5/10x4  Rp. 65000/batang ukuran sesungguhnya 4/8x4

Harga Kayu bekesting di Samarinda asal banjar
Kaso    5/7x4 Rp. 35000/batang ukuran sesungguhnya hanya 3,5/5,5x4


Harga Kayu Ulin Samarinda
8/8x4      Rp. 140000/batang
10/10x4  Rp.190000/batang 

Harga kayu kamper untuk ukuran reng


  • Ukuran 2 cm x 3 cm x  4 m = Rp  per batang
  • Ukuran 3 cm x 3 cm x 4 m = Rp  per batang

Harga kayu kamper untuk ukuran kaso

  • Ukuran 4 cm x 6 cm x 4 m = Rp  per batang
  • Ukuran 5 cm x 7 cm x 4 m = Rp per batang

Harga kayu kamper untuk ukuran balok

  • Ukuran 6 cm x 12 cm x 4 m = Rp  per balok
  • Ukuran 6 cm x 15 cm x 4 m = Rp  per balok
  • Ukuran 8 cm x 12 cm x 4 m = Rp  per balok

Harga kayu kamper untuk ukuran papan

  • Ukuran 3 cm x 20 cm x 4 m = Rp  per lembar
  • Ukuran 4 cm x 20 cm x 4 m = Rp  per lembar